“(Tok
tok tok). Rin Rin? buka pintunya, ini ada telfon untuk kamu Nak! Rin ... Rin ?”
Ibu menggedor pintu kamarku.
Suara
itu terdengar mengganggu di telingaku, bukan karena apa-apa tetapi karena aku masih asik dengan bantal, guling,
dan bermalasan di atas tempat tidur. Sungguh menyebalkan rasanya, pagi-pagi
begini aku harus bangun untuk sebuah panggilan telepon yang aku belum tau dari
siapa itu.
“Ini kan
hari minggu Bu, aduh, kenapa sih harus diangkat. Atau
gak, bilang kalau Rini lagi sibuk, atau apa kek!” dalam hati aku bergumam.
“Rin rin,
cepet bangun. Ini telepon untuk kamu! (Tok tok tok),” mendengar itu aku dengan
malasnya bangun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
