Jumat, 06 November 2015

The Power of Jamu

       Hari ini seperti hari biasanya, aku harus bangun pagi-pagi. Pertama aku melaksanakan ibadah sholat subuh bersama anak kedua ku. Dan saat aku berdoa ku selipkan doa untuk anak pertamaku, aku memohon kepada Tuhan “Ya Allah, berikanlah kesembuhan terhadap anakku, berikanlah ia kesehatan lahir maupun bathin Ya Allah”. Ya, anak pertamaku bernama Retno Ayuningrum dan ia mengalami lumpuh pada kakinya. Dan dia hanya bisa berdiam diri dirumah bersama kursi roda. Suamiku pergi meninggalkan aku bersama ke dua putriku. Sementara anak keduaku masih duduk di bangku SMA kelas satu. Namanya Puspita Safika atau biasanya aku memanggil ia Ika. Sepulang sekolah, ia tidak seperti kebanyakan teman-temannya Ika harus bekerja membantu aku dengan bekerja mencari kayu bakar.

PEDANG KARIMAH


Karya: Digna Orwiantari
Nada syahdu yang kau lantunkan mengagungkan asma-Nya
Lisan bagaikan obat penenang kalbu atas firman-Nya
Arah yang kau tuju demi menggapai ridho-Nya
Mengejar kekuatan hakiki yang tidak mudah lenyap oleh masa
Wahai muslimah, lihat di kanan dan kirimu
Lihat di depan dan belakangmu
Lihat di atas dan bawahmu
Berbagai sisi “dia” terus menggodamu
Membujukmu...dan merayumu
Namun, engkau hanya berpanutan pada satu
Satu... iman dalam hatimu
Kekuatan ilmu yang kau tancapkan dengan hikmah
Amarah yang kau bunuh dengan keberanian
Syahwat sang penjahat kau taklukan dengan ‘iffah
Kau seimbangkan dalam keadilan
Wahai muslimah, siapkan pedang karimahmu
Asah dan tajamkan pedang itu
Hadang... busungkan pedangmu
Jangan tunduk pada kemegahan tradisi dan jaman
Jangan patuh pada kefanaan yang membuai
Menangkan dengan akhlaq karimah cerminan kalbu
Cahaya-cahaya pancaran keimanan
Atas nama takwa kepada-Nya

Hidup itu Proses, Mati itu Final

Oleh: Digna Orwiantari

Gadis kelahiran 11 Januari 1985 di Cirebon, Jawa Barat itu bernama Sinta Ridwan. Sinta panggilan akrabnya terlahir dari keluarga sederhana pasangan Bapak Djaja (Almarhum) dan Ibu Hermayanti. Ia telah menyelesaikan S-1 di Bandung, tepatnya ia mengambil jurusan Sastra Inggris STIBA-ABA Yapari. Setelahnya, Sinta meneruskan S-2 jurusan Filologi Universitas Padjajaran yang juga beraa di Bandung. Kini ia sedang menempuh pendidikan S-3 di jurusan dan universitas yang sama yaitu jurusan Filologi Universitas Padjajaran.
Tahun 2005, pada bulan Februari, tak pernah di sangka gadis ini di vonis oleh dokter setelah melewati serangkaian pemeriksaan akhirnya dinyatakan bahwa Sinta menderita penyakit lupus. Ia harus bolak-balik masuk rumah sakit, berburu dokter spesialis, dan mengonsumsi berbagai macam obat kimia. Rasanya hidup gadis ini hanya sampai disini, ia sangat terpukul dengan keadaannya sekarang. Sinar matahari yang dulu menerangi hidupnya, kini berputar 180 derajat. Sakit yang luar biasa kini yang dirasakan Sinta saat bersentuhan dengan sinar matahari. Akibat penyakit ini, uang banyak yang telah dikeluarkan, bahkan habis untuk membeli obat-obatan, sehingga untuk makan sehari-hari pun susah.
Tahun berikutnya pada bulan Mei 2006, Sinta menyadari bahwa obat-obatan kimia tidak banyak membantu penyembuhannya, namun ia mendapatkan obat yang paling mujarab yaitu perasaan bahagia. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi obat-obatan kimia tersebut, dengan obat mujarabnya ia berusaha meyakinkan dirinya dan melupakan penyakitnya sehingga ia mampu beraktivitas layaknya orang normal. Semangat sinta, membuatnya kembali menekuni hobinya, yaitu membuat puisi. Pada tahun 2008 terbitlah kumpulan puisi karya Sinta Ridwan yang diberi judul “Secangkir Bintang”. Tidak hanya itu, dengan semangat ingin berbagi pengalaman hidup kepada oranag lain, ia juga menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Berteman dengan Kematian”, karena menurutnya perjalanan hidup adalah proses dan kematian adalah final. Sinta menegaskan untuk tidak takut pada kematian. Kematian itu tidak perlu ditakuti, terimalah dengan senyum kebahagiaan, karena kematian adalah jodoh yang pasti akan datang untuk mendampingi kita untuk melangkah menuju kehidupan yang baru yang merupakan kehidupan kekal yakni di akhirat kelak.
Kelas Aksakun (Aksara Kuno) adalah media kebahagiaan bagi Sinta untuk membantu orang lain dan berbagi pengetahuan. Bermula pada tahun 2009, ia bersama teman-teman seniman yang termasuk penggemar musik indie di Bandung mendirikan kelas Aksakun, serta mengajar dengan aksara kuno yang kaya cerita dan informasi dari masa lalu yang menarik. Ketertarikan dengan aksara kuno karena sesuai dengan bidang ilmu yang ia emban yakni filologi. Menurutnya, banyak informasi di kehidupan masa lalu yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini, contohnya seperti informasi untuk kepentingan tata ruang, tentang pengobatan tradisional, dan sebagainya.

Sinta prihatin terhadap kondisi naskah-naskah kuno yang telah rusak karena tidak dipelihara dengan baik. Hal ini ia dapatkan setelah menelusuri banyak perpustakaan dan museum di berbagai daerah seperti Jogja, Solo, Bali, Sulawesi hingga Papua. Oleh karena itu, ia ingin mendirikan museum digital tentang aksara kuno agar masyarakat dapat mudah mengaksesnya melalui internet.  Inilah kebahagiaan Sinta, ia telah menemukan caranya melawan penyakit lupus yang membuatnya tidak bersahabat lagi dengan sinar matahari. Gadis penggemar puisi Chairil Anwar ini juga suka menulis puisi. Layaknya judul puisi idolanya tersebut menginspirasi sosok gadis ini, Sinta Ridwan ingin hidup seribu tahun lagi.   

Jumat, 30 Oktober 2015

UTS 100

Hai hai
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh........

(wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh...)


yuhuuuuu.
sekarang digna udah semester 3 blogerista. gak kerasa ya, kamu udah menemani digna hampir.....
1.... 2......woww
hampir 8 tahun loh

hmm, tapi walaupun kamu gak terurus dengan baik oleh skeeper yang emang tak sempurna ini...maafin ya
but anyway, sekarang adalah masa-masa UTS. you know what ? and now i'm lagi ngenet sambil download film

entah lebay apa gimana, ini adalah salah-satu cara mengatasi stress ngadapin UTS, astagfirullah masa stress karena UTS, gak gitu juga sih tapi menyebut kata UTS itu menghasilkan stimulasi yang dapat membangkitkan sifat malas (rada deg-degan atau nyeremin) pada level hampir akut

But dont worry, UTS itu jangan dimusuhi tapi ditemenin. gimana caranya ? ya pinter-pinter bagi waktu. Kalau emang lagi santai ya santai, tapi eits.... jangan kebablasan.
Kaya waktu tidur emang jadi di minimalisir, tapi itu gak bakal ngerusak lifestyle kok, ingat perkataan ini "bahwa orang yang sedikit tidurnya karena suatu hal yang bermanfaat termasuk orang beruntung"
kan belajar bermanfaat tuh, so kita termasuk orang beruntung.


Nah, masalahnya setiap digna niatin untung bangun atau tidur cuma selama dua jam aja tapi malah kebangunnya setelah berjam-jam.
Ini kan gawat ya kalau gitu masalahnya, jadi ya berdoa dan kuatkan niat untuk bangun dan belajar,
Alhasil digna cuma bisa maksimal belajar 1/4 dari semua materi. huhuhu hiks hiks hiks




segitu dulu ya sharingnya, itu bukan ngeluh loh cuma ingin "berbagi" oke. Assalamu'alaikum blogerista :)

Digna Orwiantari © 2018 *Templates para Você*